NILAI-NILAI BUDAYA TRADISIONAL
DAERAH MOROWALI,KHUSUSNYA DAERAH BUNGKU
DAN KAITANYA TERHADAP PEMBANGUNAN
Berbicara
tentang budaya,kita akan berbicara tentang tradisi atau kebiasaan-kebiasaan
yang ada di dalam suatu masyarakat. Menurut ilmu Antropologi bahwa Kebudayaan itu rumit dan
kompleks. Istilah kebudayaan walaupun sudah menjadi sebuah istilah yang amat
populer, namun kenyataanya masih banyak ditemukan perbedaan-perbedaan
pengertian dari setiap orang. Ada yang mengartikan “kebudayaan” sangat luas sehingga
seluruh aktifitas manusia termasuk gerakan instingnya digolongkan ke dalam
kebudayaan, ada pula yang mengartikan kebudayaan dengan pengertian yang amat
sempit; sehingga mengartikan kebudayaan hanyalah yang menyangkut kesenian.
Pendapat kedua yang mengartikan kebudayaan hanyalah kesenian sepertinya
merupakan suatu anggapan yang keliru, karena kesenian yang terdiri dari seni
rupa, seni musik, seni tari, seni sastra, seni teater dan seni lainnya hanyalah
salah satu unsur dari kebudayaan. Jika demikian timbul pertanyaan “apakah
kebudayaan itu”?
Pengertian kebudayaan dapat dipahami melaui dua segi yakni, segi Etimologis dan Terminologis. Secara etimologis budaya berasal dari bahasa Sansekerta “budhayah” yang merupakan bentuk jamak dari “Budhi”; yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan adalah segala sesuatu yang bersangkut paut dengan akal. P.J Zoetmoelder dalam bukunya “Cultur Oost en West“ mengatakan bahwa kata budayaan merupakan perkembangan dari kata majemuk “budidaya” yang berarti “daya daripada budi, daya daripada akal”. Kata kebudayaan sama dengan kata “Culture” dalam bahasa Inggris yang merupakan serapan dari bahasa latin “Colere” yang berarti mengolah, atau mengerjakan . Jadi kebudayaan adalah segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam.
Pengertian kebudayaan dapat dipahami melaui dua segi yakni, segi Etimologis dan Terminologis. Secara etimologis budaya berasal dari bahasa Sansekerta “budhayah” yang merupakan bentuk jamak dari “Budhi”; yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan adalah segala sesuatu yang bersangkut paut dengan akal. P.J Zoetmoelder dalam bukunya “Cultur Oost en West“ mengatakan bahwa kata budayaan merupakan perkembangan dari kata majemuk “budidaya” yang berarti “daya daripada budi, daya daripada akal”. Kata kebudayaan sama dengan kata “Culture” dalam bahasa Inggris yang merupakan serapan dari bahasa latin “Colere” yang berarti mengolah, atau mengerjakan . Jadi kebudayaan adalah segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam.
Disini saya akan bercerita tentang
nilai-nilai budaya tradisional atau nilai-nilai budaya yang ada sejak dulu dan
berkembang sampai sekarang yang ada di daerah kabupaten Morowali,khususya
budaya bungku serta pengaruhnya terhadap pembangunan.Morowali adalah daerah
yang memiliki begitu banyak jenis kebudayaan,daerah yang kaya akan budaya,yang
diantaranya yaitu:
1. Budaya gotong Royong
Daerah
kabupaten Morowali,khususnya dalam hal ini daerah bungku merupakan suatu daerah
yang masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan.Dalam masalah
gotong royong,budaya yang masih sangat dijunjung tinggi dari dulu sampai
sekarang oleh masyarakat bungku yaitu membantu sesama warga yang membutuhkan
pertolongan atau bantuan,yang di mana di dalam bahasa bungku itu sendiri lebih
dikenal dengan budaya metatulungi dan mefalo-falo.Budaya
metatulungi dan mefalo-falo ini lebih sering kita jumpai pada saat seseorang
akan membangun rumah dan membuka lahan perkebunan baru,yang dimana pada umunya
mata pencaharian sebagian besar masyarakat Bungku yaitu Pekebun atau petani.
Budaya
metatulungi
ini bisa kita lihat ketika ada seseorang yang baru menikah kemudian ingin
membangun rumah,masyarakat bungku itu akan bersama-sama ikut membantu dalam
proses pembangunan rumah tersebut.Mereka rela mengorbankan waktu 1 hari bahkan
2 hari hanya untuk membantu seseorang yang akan membangun rumah.Selanjutnya
budaya mefalo-falo lebih sering terjadi pula,pada seseorang yang baru menikah
kemudian mereka ingin membuka lahan perkebunan baru,warga yang lain dengan
senang hati membantu dalam proses
pembukaan lahan baru teresbut,dimana menurut pengalaman,ketika ada orang yang
mefalo-falo mereka akan bersama-sama dimana yang tadinya lahan yang akan
digunakan sebagai lahan perkebunan nantinya
adalah sebuah hutan yang ditumbuhi begitu banyak pepohonan dan yang
menjadi permasalahan di sini yaitu karena pohon-pohon yang akan mereka tebang
yaitu pohon-pohon yang ukuran diameternya begitu besar.Tetapi dengan adanya
kegiatan mefalo-falo pekerjaan yang tadinya begigu berat dan memakan waktu yang
lama akan menjadi ringan dan waktunya akan lebih cepat sehingga menjadi sebuah
lahan yang siap untuk ditanami berbagai tanaman dan tumbuhan yang nantinya akan
sangat berguna.Zaman dulu sebelum teknologi berkembang seperti saat ini,belum
ada yang namanya sensor jadi warga hanya akan menggunakan atau memanfaatkan parang
dan kapak mereka sebagai alat untuk menebang pohon-pohon yang diameternya
begitu besar.Akan tetapi sekarang karena telah ada beberapa orang yang memiliki
sensor,jadi kegiatan mefalo-falo itu menjadi tidak terlalu berat dan menjadi
lebih ringan.
Menurut
penglihatan dan pengalaman yang saya alami sendiri alasan mengapa seseorang
rela mengorbankan waktunya hanya untuk membantu orang lain karena di daerah
morowali khususnya dalam hal ini masyarakat bungku merasa bahwa mereka semua
yang mendiami wilayah yang sama yaitu daerah Morowali adalah keluarga atau
dalam bahasa bungkunya yaitu salufunto to petutu ai.
Pengaruh
nilai-nilai budaya mefalo-falo dan metatulungi yang ada di daerah bungku bisa
dilihat pada pembangunan ekonomi dan sosial,dimana yang tadinya ketika
seseorang ingin membuka lahan,yang ketika dikerjakan sendiri mungkin bisa
memakan waktu 2 samapi 3 bulan,tapi dengan adanya budaya mefalo-falo,untuk membuka
lahan bisa selesai dalam waktu 1 minggu.Ketika cepat selesai,akan cepat pula
proses untuk menghasilkan uang,dan memperbaiki perekonomian misalnya ketika
lahan siap untuk ditanami,dengan secepatnya pemilik lahan akan menanam segala
jenis tanaman yang menurutnya akan memberi hasil misalnya pemilik lahan menanam
jagung,sayur,dan juga tanaman-tanaman yang memakan waktu yang cukup lama seperti cengkeh,coklat,pala wija dan
lain-lain,yang kemudian ketika tanaman tersebut siap untuk dipanen yang kemudian
di jual dan menghasilkan uang. Dengan adanya tradisi seperti itu hubungan
sosial yang ada di dalam masyarakat juga akan semakin baik,serta hubungan
silaturahmi antara warga tidak akan pernah berhanti.
2.
Budaya
Dalam Bidang Seni
Seni
tetabuhan (tatabua) ndengu-ndengu juga merupakan salah satu budaya yang sampai sekarang masih
ada di daerah morowali.Kita dapat melihat budaya seni tetabuhan atau dalam
masyarakat bugku itu lebih dikenal dengan istilah tetabua dalam hal ini
yaitu ndengu-ndengu pada saat bulan suci ramadan.Ketika satu minggu
menjelang bulan suci ramadan warga dari masing-masing desa akan berlomba-lomba
dalam membuat ndengu-ndengu yang dimana ndengu-ndengu itu sendiri merupakan
suatu pondok yang terbuat dari bambu yang tingginya antara 12 meter sampai 15
meter.Pondok tersebut akan terdengar dan terlihat fungsinya ketika menjelang
sahur dan menjelang waktu sholat subuh.Ketika menjelang sahur dan sholat subuh
masyarakat yang rumahnya berada di daerah ndengu-ndengu tersebut akan naik ke
atas pondok dan membunyikan alat-alat musik yang telah mereka buat dengan
kreasi sendiri dengan sekeras-kerasnya dengan tujuan agar warga bisa bangun dan
mempersiapkan diri untuk sahur dan sholat subuh.Ndengu-ndengu mempunyai ciri
khas tersendiri yang dimana alunan nada yang digunakan itu unik,yang dimana
ketika kita mendengarnya kita akan mengetahui bahwa musik teresbut adalah musik
ndengu-ndengu.
Pengaruh nilai-nilai budaya ndengu-ndengu dapat kita
lihat dalam segi pembangunan reliji atau keagamaan.Sesuai dengan kenyataan yang
terjadi dengan adanya ndengu-ndengu di
bulan suci ramadan,orang akan sahur tepat pada waktunya atau dalam bahasa
bungku lebih dikenal dengan istilah nato kepandaha,begitupun dengan
sholat subuh. Dan itu semua akan menambah niali keimanan dan nilai ibadah kita
kepada Allah SWT yang akan semakin baik.
Selain
kebudayaan ndengu-ndengu yang dimiliki oleh daerah morowali,morowali juga
memiliki budaya mojai.Kebudayaan
mojai merupakan kebudayaan yang di mana masyarakat saling berbalas pantun dan
bahasa yabg digunakan yaitu bahasa bungku yang diiringi dengan musik
tradisional daerah morowali,khususnya daerah bungku.Jadi ketika seseorang ingin
membalas pantun dari orang lain ia harus menyesuaikan dengan musik yang
ada.Budaya mojai ini telah ada sejak dahulu dan sampai sekarangKebudayaan ini
dapat kita lihat ketika di suatu desa ada pesta pernikahan,kemudian desa yang
mengadakan pesta mengundang desa-desa yang
lainya.Dan itu terserah kepada desa yang mengadakan pesta mereka ingin
mengundang desa mana dan berapa jumlah desa yang ingin mereka undang untuk
berpartisipasi dalam meramaikan acara pesta pernikahan teresbut.Semakin banyak
desa yang di undang maka semakin ramai dan seru pula acara pernikahan tersebut.
Masing-masing
desa membawa nama baik desanya.Setiap desa diwakili oleh 20 orang,dan yang
menjadi perwakilan adalah mereka yang memang memiliki kemampuan yang luar biasa
dalam mojai tersebut.Karena tidak semua orang bisa berbalas pantun,dan yang
lebih susahnya yaitu pantun yang dibawakan harus sesuai dengan musik yang ada.
Untuk
memperingati hari-hari besar misalnya untuk memperingati tujuh belas Agustus
atau dalam rangka memperingati hari ulang tahun morowali dari sejumlah
kegiatan-kegiatan yang diperlombakan pasti ada lomba mojai.Ketika diperlombakan
masing-masing desa yang ada di daerah Morowali khusunya daerah bungku akan
mempersiapkan diri merka agar bisa tampil dengan sebaik mungkin,dengan harapan
desa mereka akan menjadi pemenangnya.Dan ketika yang menjadi pemenang dalam
lomba mojai tersebut,biasanya hadiahnya berupa uang sekian juta.Dan hadiah itu
akan diserahkan kepada desa,horang-orang yang ikut berpartisipasi dalam
kegiatan mojai hanya diberikan beberapa persen saja dari jumlah uang hadiah,para
aparat desa yang akan mmengatur uang tersebut,Ketika tahun kemarin tahun 2015 desa
saya yang menjadi pemenang lomba mojai dalam rangka memperingati ulang tahun
daerah morowali.Dan uang hadiah digunakan untuk membangun Mesjid yang ada di
desa saya.
Kebudayaan
mojai didalamnya terdapat nilai-niai kebersamaan.Kaitan antara budaya mojai
dalam pembangunan dapat kita lihat pada pembangunan kemajuan desa,selain itu
dengan adanya kebudayaan mojai di daerah morowali khususnya daerah Bungku
silaturahmi antara desa tetap berjalan dengan baik yang dimana daerah-daerah
lain mungkin silaturahmi antar desa tidak berjalan dengan baik,serta kebudayan
mojai dapat maningkatkan penggunaan bahasa bungku yang baik dan benar di dalam
masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar