Selasa, 21 Maret 2017

Kebudayaan Daerah Morowali ( Bungku Tengah )



NILAI-NILAI BUDAYA TRADISIONAL
DAERAH MOROWALI,KHUSUSNYA DAERAH BUNGKU
DAN KAITANYA TERHADAP PEMBANGUNAN

Berbicara tentang budaya,kita akan berbicara tentang tradisi atau kebiasaan-kebiasaan yang ada di dalam suatu masyarakat. Menurut ilmu Antropologi bahwa Kebudayaan itu rumit dan kompleks. Istilah kebudayaan walaupun sudah menjadi sebuah istilah yang amat populer, namun kenyataanya masih banyak ditemukan perbedaan-perbedaan pengertian dari setiap orang. Ada yang mengartikan “kebudayaan” sangat luas sehingga seluruh aktifitas manusia termasuk gerakan instingnya digolongkan ke dalam kebudayaan, ada pula yang mengartikan kebudayaan dengan pengertian yang amat sempit; sehingga mengartikan kebudayaan hanyalah yang menyangkut kesenian. Pendapat kedua yang mengartikan kebudayaan hanyalah kesenian sepertinya merupakan suatu anggapan yang keliru, karena kesenian yang terdiri dari seni rupa, seni musik, seni tari, seni sastra, seni teater dan seni lainnya hanyalah salah satu unsur dari kebudayaan. Jika demikian timbul pertanyaan “apakah kebudayaan itu”?
Pengertian kebudayaan dapat dipahami melaui dua segi yakni, segi Etimologis dan Terminologis. Secara etimologis budaya berasal dari bahasa Sansekerta “budhayah” yang merupakan bentuk jamak dari “Budhi”; yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan adalah segala sesuatu yang bersangkut paut dengan akal. P.J Zoetmoelder dalam bukunya “Cultur Oost en West“ mengatakan bahwa kata budayaan merupakan perkembangan dari kata majemuk “budidaya” yang berarti “daya daripada budi, daya daripada akal”. Kata kebudayaan sama dengan kata “Culture” dalam bahasa Inggris yang merupakan serapan dari bahasa latin “Colere” yang berarti mengolah, atau mengerjakan . Jadi kebudayaan adalah segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam.
Disini saya akan bercerita tentang nilai-nilai budaya tradisional atau nilai-nilai budaya yang ada sejak dulu dan berkembang sampai sekarang yang ada di daerah kabupaten Morowali,khususya budaya bungku serta pengaruhnya terhadap pembangunan.Morowali adalah daerah yang memiliki begitu banyak jenis kebudayaan,daerah yang kaya akan budaya,yang diantaranya yaitu:
1.      Budaya gotong Royong
Daerah kabupaten Morowali,khususnya dalam hal ini daerah bungku merupakan suatu daerah yang masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan.Dalam masalah gotong royong,budaya yang masih sangat dijunjung tinggi dari dulu sampai sekarang oleh masyarakat bungku yaitu membantu sesama warga yang membutuhkan pertolongan atau bantuan,yang di mana di dalam bahasa bungku itu sendiri lebih dikenal dengan budaya metatulungi dan mefalo-falo.Budaya metatulungi dan mefalo-falo ini lebih sering kita jumpai pada saat seseorang akan membangun rumah dan membuka lahan perkebunan baru,yang dimana pada umunya mata pencaharian sebagian besar masyarakat Bungku yaitu Pekebun atau petani.
Budaya metatulungi ini bisa kita lihat ketika ada seseorang yang baru menikah kemudian ingin membangun rumah,masyarakat bungku itu akan bersama-sama ikut membantu dalam proses pembangunan rumah tersebut.Mereka rela mengorbankan waktu 1 hari bahkan 2 hari hanya untuk membantu seseorang yang akan membangun rumah.Selanjutnya budaya mefalo-falo lebih sering terjadi pula,pada seseorang yang baru menikah kemudian mereka ingin membuka lahan perkebunan baru,warga yang lain dengan senang hati  membantu dalam proses pembukaan lahan baru teresbut,dimana menurut pengalaman,ketika ada orang yang mefalo-falo mereka akan bersama-sama dimana yang tadinya lahan yang akan digunakan sebagai lahan perkebunan nantinya  adalah sebuah hutan yang ditumbuhi begitu banyak pepohonan dan yang menjadi permasalahan di sini yaitu karena pohon-pohon yang akan mereka tebang yaitu pohon-pohon yang ukuran diameternya begitu besar.Tetapi dengan adanya kegiatan mefalo-falo pekerjaan yang tadinya begigu berat dan memakan waktu yang lama akan menjadi ringan dan waktunya akan lebih cepat sehingga menjadi sebuah lahan yang siap untuk ditanami berbagai tanaman dan tumbuhan yang nantinya akan sangat berguna.Zaman dulu sebelum teknologi berkembang seperti saat ini,belum ada yang namanya sensor jadi warga hanya akan menggunakan atau memanfaatkan parang dan kapak mereka sebagai alat untuk menebang pohon-pohon yang diameternya begitu besar.Akan tetapi sekarang karena telah ada beberapa orang yang memiliki sensor,jadi kegiatan mefalo-falo itu menjadi tidak terlalu berat dan menjadi lebih ringan.
Menurut penglihatan dan pengalaman yang saya alami sendiri alasan mengapa seseorang rela mengorbankan waktunya hanya untuk membantu orang lain karena di daerah morowali khususnya dalam hal ini masyarakat bungku merasa bahwa mereka semua yang mendiami wilayah yang sama yaitu daerah Morowali adalah keluarga atau dalam bahasa bungkunya yaitu salufunto to petutu ai.
Pengaruh nilai-nilai budaya mefalo-falo dan metatulungi yang ada di daerah bungku bisa dilihat pada pembangunan ekonomi dan sosial,dimana yang tadinya ketika seseorang ingin membuka lahan,yang ketika dikerjakan sendiri mungkin bisa memakan waktu 2 samapi 3 bulan,tapi dengan adanya budaya mefalo-falo,untuk membuka lahan bisa selesai dalam waktu 1 minggu.Ketika cepat selesai,akan cepat pula proses untuk menghasilkan uang,dan memperbaiki perekonomian misalnya ketika lahan siap untuk ditanami,dengan secepatnya pemilik lahan akan menanam segala jenis tanaman yang menurutnya akan memberi hasil misalnya pemilik lahan menanam jagung,sayur,dan juga tanaman-tanaman yang memakan waktu yang cukup lama  seperti cengkeh,coklat,pala wija dan lain-lain,yang kemudian ketika tanaman tersebut siap untuk dipanen yang kemudian di jual dan menghasilkan uang. Dengan adanya tradisi seperti itu hubungan sosial yang ada di dalam masyarakat juga akan semakin baik,serta hubungan silaturahmi antara warga tidak akan pernah berhanti.
2.      Budaya Dalam Bidang Seni
Seni tetabuhan (tatabua) ndengu-ndengu juga merupakan salah satu budaya yang sampai sekarang masih ada di daerah morowali.Kita dapat melihat budaya seni tetabuhan atau dalam masyarakat bugku itu lebih dikenal dengan istilah tetabua dalam hal ini yaitu ndengu-ndengu pada saat bulan suci ramadan.Ketika satu minggu menjelang bulan suci ramadan warga dari masing-masing desa akan berlomba-lomba dalam membuat ndengu-ndengu yang dimana ndengu-ndengu itu sendiri merupakan suatu pondok yang terbuat dari bambu yang tingginya antara 12 meter sampai 15 meter.Pondok tersebut akan terdengar dan terlihat fungsinya ketika menjelang sahur dan menjelang waktu sholat subuh.Ketika menjelang sahur dan sholat subuh masyarakat yang rumahnya berada di daerah ndengu-ndengu tersebut akan naik ke atas pondok dan membunyikan alat-alat musik yang telah mereka buat dengan kreasi sendiri dengan sekeras-kerasnya dengan tujuan agar warga bisa bangun dan mempersiapkan diri untuk sahur dan sholat subuh.Ndengu-ndengu mempunyai ciri khas tersendiri yang dimana alunan nada yang digunakan itu unik,yang dimana ketika kita mendengarnya kita akan mengetahui bahwa musik teresbut adalah musik ndengu-ndengu.
            Pengaruh nilai-nilai budaya ndengu-ndengu dapat kita lihat dalam segi pembangunan reliji atau keagamaan.Sesuai dengan kenyataan yang terjadi dengan adanya ndengu-ndengu  di bulan suci ramadan,orang akan sahur tepat pada waktunya atau dalam bahasa bungku lebih dikenal dengan istilah nato kepandaha,begitupun dengan sholat subuh. Dan itu semua akan menambah niali keimanan dan nilai ibadah kita kepada Allah SWT yang akan semakin baik.
            Selain kebudayaan ndengu-ndengu yang dimiliki oleh daerah morowali,morowali juga memiliki budaya mojai.Kebudayaan mojai merupakan kebudayaan yang di mana masyarakat saling berbalas pantun dan bahasa yabg digunakan yaitu bahasa bungku yang diiringi dengan musik tradisional daerah morowali,khususnya daerah bungku.Jadi ketika seseorang ingin membalas pantun dari orang lain ia harus menyesuaikan dengan musik yang ada.Budaya mojai ini telah ada sejak dahulu dan sampai sekarangKebudayaan ini dapat kita lihat ketika di suatu desa ada pesta pernikahan,kemudian desa yang mengadakan pesta mengundang desa-desa yang  lainya.Dan itu terserah kepada desa yang mengadakan pesta mereka ingin mengundang desa mana dan berapa jumlah desa yang ingin mereka undang untuk berpartisipasi dalam meramaikan acara pesta pernikahan teresbut.Semakin banyak desa yang di undang maka semakin ramai dan seru pula acara pernikahan tersebut.
            Masing-masing desa membawa nama baik desanya.Setiap desa diwakili oleh 20 orang,dan yang menjadi perwakilan adalah mereka yang memang memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mojai tersebut.Karena tidak semua orang bisa berbalas pantun,dan yang lebih susahnya yaitu pantun yang dibawakan harus sesuai dengan musik yang ada.
            Untuk memperingati hari-hari besar misalnya untuk memperingati tujuh belas Agustus atau dalam rangka memperingati hari ulang tahun morowali dari sejumlah kegiatan-kegiatan yang diperlombakan pasti ada lomba mojai.Ketika diperlombakan masing-masing desa yang ada di daerah Morowali khusunya daerah bungku akan mempersiapkan diri merka agar bisa tampil dengan sebaik mungkin,dengan harapan desa mereka akan menjadi pemenangnya.Dan ketika yang menjadi pemenang dalam lomba mojai tersebut,biasanya hadiahnya berupa uang sekian juta.Dan hadiah itu akan diserahkan kepada desa,horang-orang yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan mojai hanya diberikan beberapa persen saja dari jumlah uang hadiah,para aparat desa yang akan mmengatur uang tersebut,Ketika tahun kemarin tahun 2015 desa saya yang menjadi pemenang lomba mojai dalam rangka memperingati ulang tahun daerah morowali.Dan uang hadiah  digunakan untuk membangun Mesjid yang ada di desa saya.
            Kebudayaan mojai didalamnya terdapat nilai-niai kebersamaan.Kaitan antara budaya mojai dalam pembangunan dapat kita lihat pada pembangunan kemajuan desa,selain itu dengan adanya kebudayaan mojai di daerah morowali khususnya daerah Bungku silaturahmi antara desa tetap berjalan dengan baik yang dimana daerah-daerah lain mungkin silaturahmi antar desa tidak berjalan dengan baik,serta kebudayan mojai dapat maningkatkan penggunaan bahasa bungku yang baik dan benar di dalam masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar